Unsur Dalam Kultur Perusahaan

UNSUR - UNSUR DALAM KULTUR SEBUAH PERUSAHAAN

Kultur perusahaan mengandung asumsi mengenai hakikat usaha, pasar dan pelanggannya, cara bagaimana usaha harus dijalankan, bagaimana pekerjaan harus dikerjakan, jenis orang yang dibutuhkan organisasi dan bagaimana mereka harus diperlakukan.

Kultur perusahaan mungkin saja kuat atau lemah, dan kultur yang kuat tidaklah otomotasi baik. Kultur itu mungkin kultur yang salah dan mungkin juga sukar untuk diubah. Kultur yang lemah, bahkan secara praktis kulturnya tidak ada, mungkin dapat diterima jika organisasi tersebut berfungsi dengan baik. Dalam sebuah organisasi mungkin ada kultur yang kuat, tetapi tentu saja ada banyak sub-kultur di dalam departemen lain atau lokasi-lokasi yang lain.

Kultur-kultur perusahaan berbeda: kultur pada Apple berbeda dengan Microsoft; Prudential dengan Allianz juga berbeda. Meskipun demikian Anda akan sukar menyebutkan nama kultur tententu yang diterapkan dengan melihat tingkat keberhasilan relative yang dicapai oleh masing-masing pasangan perusahaan ini.

Dalam batas tertentu, minat terhadap konsep kultur perusahaan ini didorong oleh upaya membongkar rahasia-rahasia keberhasilan orang Jepang. Pascale dan Athos dalam The Art of Japanese Management (Simon & Schuster, 1981) menekankan keuntungan kultur Jepang dalam kemampuannya membantu mengatasi keragu-raguan, ketidaktentuan dan ketidaksempurnaan, dan dalam penekanannya kepada saling ketergantungan sebagai bentuk hubungan yang paling dikenal. Meskipun mungkin ada banyak hal yang baik mengenai kultur perusahaan Jepang yang mungkin berguna untuk diterapkan di perusahaan kita. Hal tersebut tidaklah harus seluruhnya ditiru.

budaya dalam sebuah perusahaan

Perwujudan Bentuk Kultur Perusahaan

Kultur perusahaan mewujudkan bentuknya dalam perilaku organisasi – bagaimana para manajer, karyawan atau kelompok bereperilaku dalam konteks organisasi tersebut. Dengan kata lain, kultur menjadi cara ‘bagaimana segala sesuatu dikerjakan di sekitar sini’. Kultur juga mempengaruhi perilaku dalam tiga bidang: 

1. Nilai-nilai perusahaan: keyakinan kepada apa yang terbaik atau baik bagi organisasi dan apa yang harus atau seharusnya terjadi. Nilai ini diungkapkan melalui referensi, baik pada sisi akhir (sasaran) dan sarana (rencana tindakan untuk mencapai sasaran).

2. Suasana organisasi: suasana kerja organisasi tersebut dipandang dan dialami oleh para anggotanya. Hal ini akan meliputi bagaimana orang merasa dan bereaksi terhadap sifat dan kualitas kultur perusahaan dan nilai-nilainya.

3. Gaya kepemimpinan: cara bagaiamana para manajer berperilaku dan melaksanakan wewenangnya. Gaya ini mungkin otokratis atau demokratis, keras atau lunak, fomal atau tidak formal. Gaya ini juga menggambarkan bagaimana cara para manajer berperilaku. Michael Maccoby dalam The Gamesman (Bantam, 1978) menyebutkan ada empat jenis dasar manajer:

  • Seniman: seorang yang selalu ingin sempurna, yang sangat mencintai kualitas dan mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna
  • Pemburu dalam rimba: seorang pemangsa kekuasaan yang lapar. Akan gagal jika tolak ukur keberhasilan tergantung kepada kerja sama kelompok.
  • Wakil perusahaan (company man): seorang yang bertata karma dan setia, ia percaya kepada prestasi kerja dan orang – tetapi menginginkan rasa aman lebih daripada keberhasilan.
  • Pemain modern: pemenang yang bergerak cepat dan lentur yang menyukai perubahan. Bertarung karena senang pertandingan dan selalu berusaha untuk menang.

Menurut Maccoby, jenis yang ideal adalah pemain yang kreatif – seekor singa yang memiliki hati cukup lentur untuk berperilaku wajar dalam berbagai situasi dan bermenta baja tetapi juga penuh kepedulian terhadap bawahannya.