Tahukah anda bahwa industri mode bisa mengeluarkan produk baru setiap hari? Efek dari hal ini memunculkan istilah fast fashion, yaitu produsen fashion yang selalu mengeluarkan model terbaru setiap musim. Produsen fast fashion sendiri kebanyakan negara yang memiliki 4 musim.
Fast fashion sendiri identik dengan efek negatif yang dihasilkan dari produksi massal yang tidak pernah berhenti setiap tahunnya. Efek negatif ini seperti suatu mata rantai yang panjang karena dampaknya bukan hanya terhadap manusia, tapi juga terhadap alam. Berikut pembahasannya.
Latar belakang munculnya Fast Fashion
Industri fashion pada masa lalu terdiri dari dua musim yaitu musim semi/musim panas dan musim gugur/musim dingin. Tetapi kini industri fashion terbagi dalam empat fase mengikuti empat musim yang berlaku di sebagian negara, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi.
Inilah sebabnya model pakaian terbaru bisa muncul setiap hari. Sebuah produsen baju bisa memproduksi pakaian yang dijual hanya dalam waktu dua minggu. Beberapa alasan seperti kemudahan memasarkan dan mengirimkan barang menjadi faktor pendukung cepatnya trend mode berganti.
Bahan mentah untuk pakaian yang akan dibuat biasanya sudah diproduksi terlebih dahulu karena syarat berlanjutnya suatu produk di pasaran adalah ketersediaan bahan dan kecepatan proses pembuatan. Apabila salah satunya tidak terpenuhi maka industri tidak akan berjalan.
Tapi yang lebih berpengaruh pada efek negatif fast fashion bukan masalah kecepatan distribusi pakaian. Masalahanya terletak pada jumlah pakaian yang diproduksi, logikanya semakin tinggi jumlah produksi maka akan memicu semakin banyak limbah.
Baca juga artikel kami tentang : Cara wantek baju
Benarkah Fast Fashion selalu berharga murah?
Banyak yang berpendapat bahwa harga produk fast fashion termasuk dalam kategori murah. Pada dasarnya, biaya produksi yang paling menentukan harga sehingga pendapat tadi bisa jadi benar, untuk itu mari kita lihat apa penyebab harga murah tersebut.
Bahan kain yang digunakan memakan biaya 50-60% dari harga pakaian, kain yang lebih murah biasanya lebih ringan. Beberapa jenis kain ada yang dijual lebih murah, bisa jadi hal ini yang membuat harga pakaian fast fashion murah, yaitu kualitas kain yang digunakan bukan kualitas premium.
Faktor lain yang membuat produk bisa murah adalah biaya pemasaran yang tidak terlalu tinggi. Didukung pula dengan biaya pengiriman yang murah, yang berarti biaya pengembalian produk juga murah karena dipengaruhi ongkos kirim tadi.
Cara lain untuk memperoleh produk fast fashion yang murah adalah dengan mengambil barang dari negara berkembang seperti Kamboja dan Vietnam. Fakta mirisnya, semua yang terlibat mulai dari petani kapas, pemintal, yang menenun benang dan para pekerja garmen dibayar dengan upah minim.
Produsen fast fashion mengambil untung dari kuantitas penjualan bukan dengan memberikan harga yang tinggi. Justru mereka menjual dengan harga yang lebih murah agar bisa menjual lebih banyak produk. Intinya, kuantitas tinggi sangat penting untuk keuntungan usaha.
Di supermarket terkenal, strategi ini juga digunakan. Mereka menjual produk fast fashion yang murah sebagai pancingan dengan harapan barang lain yang lebih mahal di supermarket tersebut bisa terjual juga.
Benarkah kualitas Fast Fashion mempengaruhi keinginan membeli?
Ternyata kualitasnya tidak selalu buruk meskipun harganya murah. Sebuah jeans fast fashion yang dijual dengan harga terjangkau bisa dua kali tahan lebih lama dibanding celana buatan desainer ternama yang harganya lebih mahal 10 kali lipat.
Penelitian kualitas produk ini dilakukan oleh Komite Audit Lingkungan di Amerika yang meneliti tentang dampak dari fast fashion. Beberapa merek produsen fast fashion bahkan telah membuat perjanjian untuk mengelola limbah produksi dan melakukan aksi fashion berkelanjutan.
Beberapa diantara podusen fast fashion yang transparan dalam program pencegahan kerusakan lingkungan adalah merek-merek terkenal seperti Adidas, Reebok, Puma, H&M, Esprit, Banana Republic, Gap dan Marks&Spencer.
Meskipun berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki produk, tetap saja mayoritas kualitas fast fashion memang mudah rusak sehinga konsumen terdorong untuk kembali membeli. Hal ini juga dipengaruhi oleh perputaran trend yang cepat.
Banyak orang yang membuang pakaian yang masih bagus atau menyumbangkannya hanya karena sudah bosan memakainya. Mereka membeli pakaian baru bukan karena baju lama mereka rusak tapi karena mereka ingin mengenakan pakaian dengan model baru atau warna baru.
Tapi ada juga orang-orang yang menyimpan pakaian yang mungkin sudah bertahun-tahun lalu mereka beli. Menurut penelitian karena mereka memang menyukai pakaian tersebut sehingga masih menyimpannya.
Jadi kesimpulannya, yang menentukan apakah sebuah produk bisa menjadi fast fashion atau slow fashion (fashion yang lambat berputar) adalah keputusan konsumen sendiri. Pakaian akan bertahan lama apabila anda merawatnya dengan baik.
Baca juga artikel kami tentang : Cara memutihkan baju putih
Dampak negatif industri Fast Fashion dan solusi untuk masa depan yang lebih baik.
Pendapat yang umum disampaikan adalah fast fashion tidak merusak lingkungan, tetapi manusialah yang merusaknya. Faktanya, fast fashion maupun slow fashion adalah penyumbang kerusakan bumi terbesar keempat setelah rumah tangga, transportasi dan makanan.
Dampak negatif Fast Fashion:
- The Council for Textile Recycling memprediksi bahwa rata-rata orang Amerika membuang sekitar 31,7 kg tekstil dan pakaian setiap tahunnya.
- Ellen MacArthur juga mengungkapkan laporan tahun 2017 yang mencatat 50 persen pakaian fast fashion dibuang dalam jangka waktu 1 tahun setelah diproduksi
- Energi dan air yang digunakan dalam produksi fast fashion telah menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan. Buktinya pada tahun 2018, industri fashion dunia menyumbang 2,1 miliar metric ton emisi gas rumah kaca, ini setara dengan total emisi 3 negara.
- Merek Burberry pernah mendapat kecaman karena membakar stok barang yang tidak laku, nilai stok tersebut hampir 40 juta dollar AS. Pebakaran dilakukan untuk menjaga harga barang tetap tinggi dengan menghindari menghabiskan barang lewat diskon.
Solusi untuk industri yang lebih ramah lingkungan di masa depan:
Solusi utama adalah mengubah budaya konsumtif masyarakat untuk mengurangi limbah pakaian. Perbandingan jumlah baju yang diproduksi dengan jumlah penduduk dunia adalah 100 miliar : 7 miliar. Ini adalah jumlah yang fantastis.
Konsumen harus mulai membiasakan diri menggunakan kembali produk fashion yang dimiliki, tidak hanya mngikuti trend. Dengan kata lain, konsumen harus membatasi pembelian produk baru. Ini akan membantu mengurangi jumlah produksi pakaian.
Menyewa pakaian juga bisa menjadi solusi apabila tetap ingin mengikuti trend tanpa perlu membeli pakaian baru. Jadi berbagai solusi dari segi konsumen memang akan merubah budaya dalam konsumsi pakaian
Solusi berikutnya adalah produsen fashion harus mendesain pakaian yang mudah didaur ulang dan mudah terurai ketika menjadi limbah. Ini adalah usaha untuk mencegah kerusakan lingkungan baik itu pencemaran tanah, air maupun udara.
Fast fashion telah menjadi sebuah fenomena dalam industri fashion yang memberikan dampak besar terhadap cara manusia mengkonsumsi pakaian. Respon manusia ini akhirnya mempengaruhi juga bumi tempat kita tinggal ini. Kebijaksanaan kita dibutuhkan agar industri fashion semakin baik kedepannya.
Demikianlah artikel dari Konveksi Bandung kali ini, semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi anda. Terima kasih sudah mengunjungi website Konveksi Bandung, anda bisa simak berbagai artikel menarik lainnya di blog kami.
Kami selalu siap untuk melayani segala kebutuhan Anda!
Hubungi kami
atau kembali ke halaman utama
